Kelompok 5 (KD
3.5) :
1. Eko Yunanto (11)
2. Iken Susiana (14)
3. Isnaini Nanda
Saputri (16)
4. Muthi Halimah (20)
5. Rizka Ismi
Khoiriah (27)
TUGAS PRODUK KREATIF DAN KEWIRAUSAHANAN
“Menganalisis proses kerja pembuatan prototype produk
barang atau jasa”
·
Prototipe produk (purwa–rupa produk) adalah bentuk dasar dari
sebuah produk merupakan tahapan yang sangat penting dalam rencana pembuatan
produk karena menyangkut keunggulan produk yang akan menentukan kemajuan suatu
usaha di masa mendatang.
TAHAPAN
PEMBUATAN PROTOTYPE DAN KEMASAN PRODUK BARANG/JASA
Tahapan prototype
sebelum mendesain produk barang atau jasa ada beberapa tahapan yang harus
diperhatikan, yakni sebagai berikut:
a)
Pendefenisian produk
Merupakan
penerjemahan konsep teknikal yang berhubungan dengan kebutuhan dan perilaku
konsumen kedalam bentuk perancangan termasuk aspek hukum yang melibatkan
keamanan dan perlindungan terhadap konsumen.
b) Working
Model
Dibuat tidak
harus mempresentasikan fungsi produk secara keseluruahan dan di buat pada skala
yang sepelunya saja untuk membuktikan konsep dari pembuatan produk, dan
menenmukan hal-hal yang tidak sesuai dengan konsep yang telah di buat.Working
model juga dibangun untuk menguji parameter fungsional dan membantu perancangan
prototype rekayasa.
c) Prototipe
rekayasa (engineering prototype)
Dibuat
seperti halnya working model, namun mengalami perubahan tingkat kompleksitas
maupun superioritas dari working model, dibangun mencapai
tingkat kualitas teknis tertentu agar dapat diteruskan menjadi prototype produksi
atau untuk dilanjutkan pada tahap produksi. Prototype rekayasa ini dibuat untuk
keperluan pengujian kinerja opersioanal dan kebutuhan rancangan system
produksi.
d) Prototipe
produksi (production prototype)
Bentuk yang
dirancang dengan seluruh fungsi operasional untuk menentukan kebutuhan dan
metode produksi dibangun pada skala sesungguhnya dan dapat menghasilkan data
kinerja dan daya tahan produk dan partnya.
e) Qualifield
production item
Dibuat dalam
skala penuh berfungsi secara penuh dan diproduksi pada tahap awal dalam jumlah
kecil untuk memastikan produk memenuhi segala bentuk standar maupun peraturan
yang diberlakukan terhadap produk tersebut biasanya untuk diuji-cobakan kepada
umum.Untuk mematangkan produk yang hendak diproduksi secara komersil, maka
produk perlu memasuki pasar untuk melihat ancaman-ancaman produk yang terjadi;
misal: keamananan, regulasi, tanggung jawab, ketahanan dan kerusakan
(wear–and–tear), pelanggaran, siklus breakeven dan polusi, dan konsekuensinya
diperlukan peningkatan program pemasaran.
f) Model
Model
merupakan alat peraga yang mirip produk yang akan dibangun (look– like–models).
Secara jelas menggambarkan bentuk dan penampilan produk baik dengan skala yang
diperbesar, 1:1, atau diperkecil untuk memastikan produk yang akan dibangun
sesuai dengan lingkungan produk maupun lingkungan user.
PROSES KERJA
PEMBUATAN PROTOTYPE PRODUK BARANG ATAU JASA
·
Diagram Alur Proses Produksi (Production Flow Chart Diagram)
Diagram alur
proses produksi ini harus dibuat secara jelas terlebih dahulu sebelum suatu
proses produksi dijalankan. Berdasarkan diagram alur proses produksi
tersebutlah pengetesan dan monitoring atas barang dalam proses produksi (work
in process) harus dilakukan agar produk akhir bermutu sesuai dengan rencana.
Seandainya timbul variasi mutu pun, tingkat toleransinya dari penyimpan masih
dalam batas-batas yang dapat diterima. Artinya, melalui tes-tes pada berbagai
tahapan proses produksi harus dilakukan agar bila terjadi komponen atau barang
yang cacat (defect) dapat segera diketahui untuk segera ditindak lanjuti.
Masing-masing jenis industri manufaktur mempunyai diagram alur proses produksi
yang berbeda satu sama lain karena produk yang harus dihasilkan berbeda. Bahkan
untuk produk yang sejenis pun, diagram alur proses produksinya belum tentu
persis sama karena masing-masing mempunyai ciri khas atau spesifikasi
sendiri-sendiri.
Diagram alur
proses produksi yang berbeda produk, misalnya diagram alur proses produksi
tekstil sama sekali berbeda dengan diagram alur proses produksi pembuatan
obat-obatan (farmasi). Akan tetapi, walaupun sama-sama industri manufaktur
farmasi (obat-obatan), diagram alur proses produksinya dapat berbeda, misalnya
yang satu berbentuk tablet, sedangkan yang lain berbentuk cair.
·
Prosedur pengawasan mutu produk
Pengawasan
atas mutu suatu barang hasil produksi, seyogyanya meliputi pengetahuan
hal-hal
berikut:
1. Kerusakan dan Mutu Produk
Seperti telah
dijelaskan bahwa suatu barang (jasa) dibuat melalui suatu proses. Proses
pembuatan tersebut disesuaikan dengan bentuk dan mutu barang yang ingin
dihasilkan.
2. Mencegah atau Menghindarkan Terjadinya Kerusakan
Barang (produk)
Kiat utama
dari pencegahan kerusakan suatu produk sebenarnya sangat sederhana saja, yakni
kerusakan harus dicegah sebelum terjadi.
3. Kendali Mutu Terpadu
Uraian di
atas menunjukkan bahwa mencegah terjadinya kerusakan produk selama proses
produksi, berarti mengadakan suatu rangkaian kegiatan terpadu dalam
pengendalian mutu. Bila ada pengendalian atau controlling atas mutu tentunya
harus dimulai sejak perencanaan (planning) mutu produk bersangkutan. Antara
tahap perencanaan dan tahap seperti pengorganisasian (organizing) dan
pelaksanaan (actuating) harus disertai pengawasan mutu. Hal ini memberi
gambaran bahwa manajemen mutu (quality management) meliputi berbagai apsek
keikutsertaan (participation) dari berbagai pihak di dalam perusahaan yang
menghasilkan suatu produk yang mutunya harus dikendalikan.
·
Jenis-jenis pengawasan mutu produk
1. Pemantauan Mutu Bahan-Bahan
Apakah bahan
baku yang digunakan sesuai dengan mutu yang direncanakan? Hal ini perlu diamati
sejak rencana pembelian bahan, penerimaan bahan di gudang, penyimpanan di
gudang, sampai dengan saat bahan baku tersebut akan digunakan.
2. Pemantauan Proses Produksi
Bahan baku
yang telah diterima di gudang, selanjutnya akan diproses dalam mesin-mesin
produksi untuk diolah menjadi barang jadi. Dalam hal ini, selain cara kerja
peralatan produksi yang mengolah bahan baku dipantau, juga hasil kera
mesin-mesin tersebut dipantau agar menghasilkan barang sesuai yang
direncanakan.
3. Pemantauan Produk Jadi
Pemeriksaan
atas hasil produksi jadi untuk mengetahui apakah produk sesuai dengan rencana
ukuran dan mutu atau tidak. Sekaligus untuk mengetes mesin yang mengolah selama
proses produksi. Bila produk atau produk setengah jadi sesuai dengan bentuk,
ukuran, dan mutu yang direncanakan maka produk-produk tersebut dapat
digudangkan.
Selanjutnya
dipasarkan (didistribusikan). Namun bila terdapat barang yang cacat maka barang
tersebut harus dibuang atau remade dan mesin perlu disetel kembali agar
beroperasi secara akurat.
4. Pemantauan Pengepakan
Bungkus dapat
merupakan alat untuk melindungi barang agar tetap dalam kondisi sesuai dengan
mutu.
·
Pemecahan masalah mutu dengan statistik
Metode
statistik diketahui telah digunakan sejak lama dalam rangka membantu perusahaan
dalam masalah tertentu yang kompleks. Walaupun demikian, metode statistik
sebenarnya mempunyai ketentuan tertentu dalam pelaksanaannya. Suatu hal yang
perlu diketahui adalah bahwa dalam industri ternyata statistik merupakan salah
satu alat untuk pengendalian mutu, termasuk dalam pencegahan kerusakan barang
(defect prevention).
*Alasan digunakan metode statistik dalam pengawasan mutu adalah sebagai berikut:
· Menghitung jumlah kerusakan barang dalam proses
produksi.
· Kerusakan atau cacatnya barang, sebenamya merupakan
akibat terjadinya penyimpangan (variasi atau deviasi) dalam proses produksi.
Metode statistik dapat memberi gambaran tentang penyimpangan-penyimpangan
tersebut.
Misalnya,
produk yang dihasilkan dari suatu proses yang tidak mengalami penyimpangan
(deviasi), tentu saja produk tersebut tidak mengalami kerusakan. Akan tetapi,
mengingat proses produksi merupakan kombinasi mesin-mesin dan orang-orang maka
bisa terjadi kekeliruan sehingga produk yang dihasilkan mengalami penyimpangan
(deviasi). Dalam hal yang terakhir inilah peranan statistik untuk mengurangi
terjadinya penyimpangan, yang berarti pula mengurangi kerusakan produk akhir.
Secara umum
dari metode statistik dapat diperoleh suatu gambaran tentang data sampel yang
dianalisis. Gambar tersebut dapat memberikan visualisasi dengan jelas tentang
data tersebut sehingga dapat diketahui apakah terjadi penyimpangan (kerusakan)
atau tidak.
Dari hal
pengendalian mutu, peranan seorang supervisor mutu sangat berperan terutama
dalam hal mengumpulkan data statistik, menganalisis, dan menyimpulkannya.
Seorang supervisor mutu dapat memberikan informasi yang cepat dan tepat kepada
pihak manajemen tentang hasil produk, apakah di bawah atau sesuai dengan
standar mutu yang direncanakan.
·
Alat kendali mutu
Dengan
Statistic Quality Control diperoleh alat bantu kendali mutu berupa diagram
dan histogram.
1. Diagram Pengendati Mutu (Quality Control Chart)
Dari tiap
jenjang dalam DAP, Anda, dapat membuat suatu rencana kerja pemantauan agar
produk yang dihasilkan sesuai dengan mutu yang direncanakan. Pada tahap ini
Anda, membuat suatu control chart (diagram pengendali) yang dapat digunakan
untuk memperoleh gambar atau diagram sebab akibat (DSA) atau dalam bahasa
Inggris dikenal dengan istilah Cause and Effect Diagram (CED).
2. Histogram
Dari diagram
kontrol (diagram kendali) yang dik:umpulkan secara statistik pada berbagai
tahap atau jenjang kegiatan, Anda, kemudian dapat membuat suatu histogram mutu.
Bila terdapat penyimpangan, Anda akan mengetahui berapa besar penyimpangannya
dan faktor apa yang menyebabkannya. Selanjutnya, mungkin perlu dibuat suatu
tindakan koreksi atau. perbaikan.
3. Peranan Komputer
Secara umum
dapat dikemukakan di sini bahwa berbagai kegiatan pengendalian, terutama pada
perusahaan besar, seyogianya menggunakan program komputer sesuai dengan
kebutuhan.
Tetapi, patut
Anda ketahui bahwa komputer hanyalah merupakan alat bantu analisis. Adapun
faktor yang penting dalam pengendalian mutu adalah manusia.
·
Bentuk Prototype
Berdasarkan karakteristiknya prototipe sebuah
sistem dapat berupa low fidelity dan high fidelity. Fidelity mengacu kepada
tingkat kerincian sebuah sistem (Walker et al, 2003). Low fidelity prototype
tidak terlalu rinci menggambarkan sistem. Karakteristik dari low fidelity
prototype adalah mempunyai fungsi atau interaksi yang terbatas, lebih
menggambarkan kosep perancangan dan layout dibandingkan dengan model interaksi,
tidak memperlihatkan secara rinci operasional sistem, mendemostrasikan secara
umum feel and look dari antarmuka pengguna dan hanya menggambarkan konsep
pendekatan secara umum (Walker et al, 2003).
Prototipe ini mempunyai interaksi penuh dengan
pengguna dimana pengguna dapat memasukkan data dan berinteraksi dengan dengan
sistem, mewakili fungsi-fungsi inti sehingga dapat mensimulasikan sebagian
besar fungsi dari sistem akhir dan mempunyai penampilan yang sangat mirip
dengan produk sebenarnya (Walker et al, 2003).
Fitur yang akan diimplementasikan pada prototipe
sistem dapat dibatasi dengan teknik vertikal atau horizontal. Vertical
prototype mengandung fungsi yang detail tetapi hanya untuk beberapa fitur
terpilih, tidak pada keseluruhan fitur sistem. Horizontal prototype mencakup
seluruh fitur antarmuka pengguna namun tanpa fungsi pokok hanya berupa simulasi
dan belum dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya (Walker et
al, 2003).
Kita
bisa menganalisis kegiatan prototyping berdasarkan empat dimensi sebagai
berikut.
a. Dimensi Representasi
Dimensi Representasi berarti menggambarkan
bentuk prototype, misalnya potongan lis dan panel gypsum, potongan dempul, dan
lainnya.
b. Dimensi Presisi
Dimensi Presisi menggambarkan tingkat ketelitian
prototype yang akan dievaluasi; Dalam dimensi tersebut, bentuknya kasar atau
halus.
c. Dimensi Interaktif
Dimensi Interaktif menggambarkan sejauh mana
hubungan antara konsumen dengan prototype yang dibuat oleh seorang wirausaha. Misalnya,
apakah pihak pembeli menyukai layanan dan produk kreatif yang ditawarkan.
d.
Dimensi Evolusi
Dimensi Evolusi menggambarkan prediksi siklus
hidup dari suatu prototype, misalnya prototype tersebut bersifat sekali pakai
atau permanen.
2. Tahapan-tahapan dalam Prototyping
Tahap-tahap dalam prototyping boleh dikatakan
merupakan tahap-tahap yang dipercepat. Strategi utama dalam Prototyping adalah
kerjakan yang mudah terlebih dahulu dan sampikan hasil kepada pengguna sesegera
mungkin.
Prototyping dibagi ke dalam enam tahapan sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi model prototype. Dalam
bagian ini, pihak wirausahawan menjadi mengerti apa saja yang ada di dalam
badan usaha yang mereka buat.
b. Rancang bangun prototype. Dalam rancang
bangun bisa dibantu oleh seperangkat computer serta software CASE
(Computer-Aided System Engineering) supaya bisa mendesain produk yang baru dan
kompeten.
c. Uji prototype untuk memastikan prototype
dapat dengan mudah dijalankan untuk tujuan demonstrasi.
d. Siapkan prototype USD (User’s System Diagram)
untuk mengidentifikasi bagian-bagian dari produk yang di- prototype-kan.
e. Evaluasi dengan pengguna untuk mengevaluasi
prototype dan melakukan perubahan jika diperlukan.
f. Tranformasikan prototype menjadi produk nyata
dan dibutuhan konsumen sebagai sebuah sampel atau contoh.
B. Faktor-faktor Penentu dalam Proses Strategi
Pembuatan Prototype
Berikut ini disajikan berbagai faktor-faktor yang ada di dalam strategi
prototyping.
1. Prototyping bisa berupa subsistem, serangkaian dari beberapa subsistem, atau
keseluruhan sistem
Kita akan membuat sistem yang besar, mungkin hal terbaik yang bisa dilakukan
adalah memecahnya menjadi subsistem-subsistem yang lebih kecil yang
masing-masing subsistem dapat dianalisis berdasarkan strategi yang paling
optimal.
2. Melakukan Prototyping atas bermacam-macam konsep dengan melakukan
Prototyping atas satu konsep
Ketika hanya ada satu atau dua konsep produk saja yang memungkinkan besar akan
dipilih untuk dikembangkan, perkembangan prototype dalam jumlah banyak pada
masa awal akan memberikan umpan balik penting bagi perancang.
3. Pembuatan prototype bisa dilakukan oleh pihak luar atau dilakukan
oleh seorang wirausaha itu sendiri
Melakukan penyerahan urusan pembuatan produk hanya kepada pihak luar dapat membengkakkan
biaya dan waktu sehingga lebih baik dibuat sendiri.
4. Fisik pada suatu prototype dapat dibuat ukuran skala
Ketika kita sedang berurusan dengan produk yang berukuran besar, seperti pilar
untuk bangunan rumah bertingkat, kita tidak akan mungkin membuat prototype yang
sama ukurannya dengan produk akhirnya (kecuali untuk keperluan uji akhir). Oleh
karena itu, kita bisa membuat skala fisiknya untuk mengetes aspek-aspek
tertentu dalam desain produk tersebut atau bisa dibuat prototype potongan yang
bisa disambung saat pembangunannya.
5. Hasil akhir suatu bentuk usaha dapat dibuat skala lewat prototype
Mungkin merupakan suatu hal yang bagus apabila perancang dapat merancang
prototype yang mampu mencakup beberapa persyaratan desain dalam satu waktu. Hal
ini bertujuan agar perancang dapat membuat evaluasi atas fitur yang diharapkan
ada pada produk tersebut. Dengan adanya skala fungsi, perancang akan merasa
lebih mudah dalam menguji prototype dan produk final yang memiliki sifat lebih
kuat.
VIDEO KD 5 KWU
PPT KD 5 KEWIRAUSAHAAN
CONTOH SOAL & JAWABAN KD.5 KEWIRAUSAHAAN